image_pdfimage_print

Budaya facebook dikalangan mahasiswa..

Beranjaknya teknologi yang membawa kita ke web 2.0, semua mulai berlomba untuk membuat aplikasi web yang bisa digunakan untuk berinteraksi satu dengan yang lain. Sebagai arana yang sangat tepat jaman mobilitas atau dengan kata lain suatu hal yang bisa di akses atau ditempuh tanpa ada batasan waktu dan tempat. Banyak orang yang gemar dengan bersosialisasi satu dengan yang lain tapi mereka tidak memiliki banyak waktu luang dan bahkan terpisah oleh wilayah geografis. Seorang pakar mencoba mencari jalan keluar untuk hal ini, maka dibuat berbagai macam aplikasi sosial networking yang dapat diakses dengan mudah. Disini kita akan membahas salah satu aplikasi networking tersebut yang dengan mudah siapa saja untuk mengunakannya, tanpa ada halangan umur, bahkan jarak. Kita sering memanggil situs jejaring sosial ini dengan sebutan facebook. Bagaimana situs ini bisa merambah dengan cepat di dunia? hanya satu kata yang bisa di ungkap karena web tersebut adalah web jejaring sosial dimana semua orang ramai untuk membahas dan membicarakan hal ini. Didalam fitur facebook telah terintegrasi dengan baik dari sistem maupun fitur-fitur yang sangat membantu penguna dalam mendapatkan informasi. Fitur-fitur yang sangat disukai oleh kalangan penguna adalah fitur chat, ada pula games, kuis, dan banyak lg. Awal mula masuknya facebook di indonesia negeri tercinta kita ini sangat membawa fenomena dan perdebatan baik dari sisi positif maupun sisi negatif dari facebook.

Continue reading “Budaya facebook dikalangan mahasiswa..” »

Nasib seorang manusia gerobak

Tanpa kita sadari fenomena yang menjadi realita kehidupan sebagai manusia gerobak dan sering di lihat sebagai hal yang wajar, fenomena ini bukan saja disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kemiskinan dan faktor ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya yang sudah melekat dengan kehidupan di negaraku ini. Mengapa manunia gerobak ini bertambah banyak seiring dengan kemajuan bangsa dan kemajuan teknologi? Kemajuan bangsa menjadi tolak ukur untuk naik atau turunnya perekonomian rakyat. Sebagai wujud nyata dari sebuah peradapan dimana yang kuat akan menang dan yang kalah akan semakin tersisih. Selain itu, keinginan manusia gerobak untuk lepas dari budaya kekuasaan dari pihak-pihak lain di kota metropolitan ini. Hal ini menunjukkan bahwa manusia gerobak hadir bukan hanya akibat budaya kemiskinan yang mencirikan pekerjaan memulung sebagai tindakan fatalis, tetapi juga akibat struktur yang memandang pekerjaan memulung sebagai sebuah keterpaksaan karena tidak adanya pilihan-pilihan, Kehadiran manusia gerobak merupakan wujud dari subjek aktif dan kreatif yang dengan segala kapasitasnya senantiasa bergeliat, merespons terhadap situasi dan perubahan, dan memilih satu peran yang paling menguntungkan di antara pilihan-pilihan yang tersedia. Pilihan mereka untuk menjadi manusia gerobak didasarkan pada pengalaman kerja-kerja mereka sebelumnya yang tidak menguntungkan, akibat kurangnya pendapatan, kerugian usaha, dan ketidakbebasan. Pada golongan kedua, pilihan untuk menjadi pemulung lebih karena tergiur sosialisasi tetangga yang menjanjikan kemudahan dalam mencari pekerjaan dengan pendapatan besar di Jakarta. Namun, di antara golongan ini, ada yang sejak awal memang meniatkan diri untuk menjadi pemulung di Jakarta karena pekerjaan memulung mudah untuk dilakukan dan tidak membutuhkan persyaratan pendidikan tertentu, dan besarnya konsumsi kota.

Continue reading “Nasib seorang manusia gerobak” »